Pernahkah kamu ketika nonton film di bioskop melihat pemandangan para orang tua yang membawa anak-anaknya yang usianya masih di bawah umur atau tidak sesuai dengan rating usia? atau bahkan kamu adalah salah satunya? Tolong baca ini dan pertimbangkan kembali untuk kedepannya huhu.
Membawa anak-anak dengan usia belum mencapai rating usia yang telah ditentukan sangatlah tidak fantash. Hal itu dapat menyebabkan kurangnya kondusifitas studio yang disebabkan suara random anak-anak seperti ngobrol sendiri, menangis, lari-lari, dan sebagainya. Studio bioskop yang seharusnya tenang menjadi tidak nyaman karena tingkah anak-anak tersebut sehingga dapat menyebabkan pengunjung lainnya merasa terganggu.
Alasannya mungkin beragam. Ada yang tidak bisa menitipkan anak, mengajak kaluarga nonton bareng, atau paling seringnya “Namanya juga anak kecil, biasalah nangis, loncat-loncat, lari-lari, ceritanya pun gak bakal ngerti”.
Rating usia ditetapkan sesuai dengan konten film yang akan diputar di cinema, bukan hanya angka yang ditulis begitu saja seperti 1+1=12. Indonesia memiliki Lembaga Sensor Film atau LSF yang bertugas klasifikasi usia film berkaitan dengan sensor. Klasifikasi tersebut dibuat untuk memberikan gambaran kelayakan suatu film bagi kelompok usia tertentu dengan mempertimbangkan berbagai unsur yang ada dalam film seperti kekerasan, bahasa, tema, perilaku, maupun unsur seksual atau romantis.
Bayangkan anak sekecil itu dibiarkan menonton konten kekerasan, bukan hanya kekerasan fisik namun juga verbal yang rawan diikuti anak-anak karena sifat mereka yang masih imitatif atau suka meniru apa yang mereka saksikan. Selain itu, banyak juga konten yang mempertontonkan kemesraan remaja bahkan dewasa dan anak-anak itu dibiarkan menontonnya begitu saja? Please para orang tua bijaklah dalam memilih hiburan khususnya jika membawa anak, janganlah egois.
Anak kecil memang mungkin tidak akan mengerti makna film secara keseluruhan, namun bukan berarti tidak menerima apa yang dilihat dan didengar. Anak-anak belajar banyak hal hanya dengan melihat atau mengamati, mereka cenderung dapat meniru ucapan, ekspresi, tingkah laku, hingga tindakan yang mereka lihat di sekitar. Inilah yang disebut sifar imitatif atau kecenderungan untuk meniru apa yang diamati.
Begitupula dengan balita, kok ada orangtua yang tega membawa balita ke dalam studio bioskop yang gelap dengan layar besar dan suara yang sangat keras? Balita biasanya belum mampu duduk diam sepanjang film diputar, pasti ada rasa bosan, takut, sehingga kadang mengganggu pengunjung lain karena tangisannya, ramenya, bahkan ada yang bermain lari-lari di dalam studio.
Bioskop merupakan ruang publik yang digunakan berasama. Banyak orang datang dengan berbagai alasan seperti me time, self reward, nonton serius, hiburan, dan sebagainya. Namun, ketika ada anak yang menangis, mengganggu kenyamanan, berbicara, nendang-nendang kursi, bermain, tentu itu sangat mengganggu penonton lainnya.
Rating usia seharusnya menjadi panduan, bukan pajangan. Klasifikasi usia dibuat agar penonton dapat mempertimbangkan apakah sebuah film sesuai dengan kelompok usia tertentu. Orang tua tentu memiliki hak untuk menentukan tontonan anaknya. Namun, keputusan tersebut idealnya juga mempertimbangkan kepentingan dan kenyamanan anak, bukan hanya keinginan orang dewasa untuk menonton film tertentu. Jika sebuah film diperuntukkan bagi penonton dewasa, mungkin lebih baik mencari waktu lain untuk menontonnya ketika anak dapat ditinggal bersama orang yang dipercaya.
Jika ingin mengajak anak ke bioskop, pilihlah film yang memang dibuat untuk mereka. Karena membawa anak ke bioskop bukan hanya tentang “anaknya boleh masuk atau tidak.” Ada pertanyaan yang jauh lebih penting: “Apakah film ini memang pantas dan nyaman untuk dia tonton?”
Pada akhirnya, rating usia bukanlah penghalang orang tua untuk menikmati film bersama anak. Justru, rating tersebut dapat membantu orang tua memilih tontonan yang lebih sesuai. Sebab pengalaman pertama seorang anak terhadap film seharusnya menjadi pengalaman yang menyenangkan, bukan duduk berjam-jam dalam studio gelap sambil kebingungan, ketakutan, bosan, atau melihat sesuatu yang belum seharusnya mereka lihat.
Dan bagi penonton lain, mungkin kita juga perlu mengingat satu hal sederhana:
Bioskop adalah ruang bersama. Kenyamanan anak penting, tetapi kenyamanan penonton lain juga tetap perlu dihargai.